Sore itu matahari tampak ceria menyinari perkampungan desa Kadu.
Sebuah desa yang sudah penuh sesak dengan rumah-rumah petak untuk para kaum
urban yang menjemput rizki dari berbagai daerah di Indonesia.Ya Tangerang
memang terkenal dengan julukan kota sejuta pabrik.Diantara rumah petak itu selepas
menunaikan kewajibannya bekerja di perusahaan dengan tenaga yang telah terkuras
beberapa pemuda dengan penuh semangat mengkaji ilmu agama mentarbiyah diri
untuk memahami sekaligus berusaha mengamalkan ajaran agama Islam yang kami
cintai sesuai tuntunan Allah dan rasulullah, dan kita saling bersilaturahmi, berdiskusi
dalam segala hal, juga sebagai hiburan setelah seharian bergelut dengan suara mesinmesin pabrik yang membisingkan.Dalam Tarbiyah itu kita tak hanya mengkaji ilmuilmu “langit” (baca: ilahiyah) dan mengamalkannya namun juga mensahabati ilmu
bumi (baca: kemasyarakatan)


Seperti biasanya selepas kewajiban rutin para pemuda itu dengan semangat
berkumpul duduk bersila dalam kontrakan melewati gang sempit untuk
mentarbiyah diri. Segelas air teh hangat tampak menemani menambah hangatnya
silaturahmi dan kajian sore itu yang membahas permasalahan dan kondisi
lingkungan sekitar terutama generasi penerus umat banyak dari golongan tak mampu
dari segi ekonomi untuk membiayai sendiri pendidikannya terlebih anak-anak yatim
piatu, dan tak dapat dipungkiri bahwa dengan pendidikanlah masyarakat yang
dhuafa dapat memutus tali rantai kemiskinannya. Salah satu peserta halaqoh
membacakan hadits “Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari
seorang mukmin, maka Allah melapangkan darinya satu kesusahan di hari kiamat
dan barang siapa (memudahkan) menempuh jalan untuk menuntut ilmu maka Allah
akan mudahkan baginya jalan menuju surga”.


Setelah dibacakan diskusipun berjalan, sang murrobi mengawali diskusi.
“Alhamdulillah Kita sudah dengarkan hadits yang dibacakan tadi, dilingkungan
terdekat sekitar kita banyak anak-anak dhuafa dan yatim piatu yang membutuhkan
uluran tangan saudaranya, terutama untuk biaya sekolahnya, kita harus berbuat
tindakan nyata untuk membantu saudara – saudara kita meskipun kita bukanlah
orang yang berkecukupan. Jika belum mampu dengan harta, kita bisa membantu
dengan tenaga dan fikiran”. Semua yang hadir di halaqoh tarbiyah itu memahami
maksud dan tujuan yang disampaikan sang murrobi. Para anggota halaqoh itupun
antusias berdiskusi hingga mereka merencanakan lembaga seperti apa yang akan
mereka bentuk, tempat kerja mereka yang sama yakni PT ARSI akan mempermudah
mereka untuk melakukan konsolidasi. Apalagi di kawasan manis telah banyak berdiri
Rohis dan DKM disetiap pabrik sehingga akan mempermudah merealisasikan impian
mereka.


Sang murrobi memberi pemahaman bahwa kesolehan yang kita miliki
janganlah hanya menjadi kesolehan pribadi namun juga kesolehan yang dapat
dirasakan oleh masyarakat sekitar. Akhirnya hari beranjak siang dan pengajian
tersebut di tutup dengan doa kafaratul Majlis.

Berita tentang ingin dibuatnya lembaga sosial menjadi trending topik dan
disambut dengan antusias oleh kelompok pengajian yang lainnya. Kelompok halaqoh
dilingkungan pabrik saat itu sudah terhimpun dalam MATA MANIS (Majelis talim
Kawasan Industri Manis). Sehingga berita tersebut menjadi viral dan direspon positif
dikalangan mereka. Kelompok ARSI yang dimotori oleh Pak Budi, Kelompok
Dynamitra yang dimotori oleh Pak Ridwan dan Kelompok ARSI yang dimotori oleh
PakMulyono, akhirnya pun berpadu.


Juli 2002, di Ahad pagi yang damai serta disinari cahaya mentari yang hangat
diadakanlah rapat pembentukan organisasi di masjid Al Furqan desa Kadu, saat itu Pak
Supiyanto adalah tokoh masyarakat di desa Kadu yang juga pembina rohis berbagai
perusahaan menjadi mediator pembuatan lembaga. Banyak juga yang hadir dalam
rapat itu jamaah kelompok pengajian dari perusahaan-perusahaan di sekitar kawasan
industri manis desa Kadu. Suasana rapat sangat dinamis hangat penuh kekeluargaan
karena semangat ukhuwah islamiyah yang melandasinya meski dengan hidangan rapat
hanya air mineral dan kacang kulit saja.


Impian saya secara konseptual berpadu dengan gebrakan pak Supianto secara
kontekstual. Saat itu Pak Supianto bersama pak Ridwan telah memiliki rancangan
kelembagaan namun belum merumuskan program sedangkan saya telah memiliki
rancangan program namun belum memiliki lembaga. Disanalah chemistry kita berpadu
menjadi sebuah yayasan Bina Insan Mulia. Pak Supianto bahkan mempersilahkan
kediamannya sebagai kantor kesekretariatan BIM karena lokasinya berdekatan dengan
kawasan Industri Manis.


Rapat itu dihadiri oleh para karyawan dari PT. Sinar Antjol, PT. ARSI, PT
Dynamitra, PT. YKK, PT. Moonlion, PT. ISI dan berbagai perusahaan di kawasan
industri Manis. Rapat pun selesai menjelang adzan dzhuhur berkumandang, ada ghiroh
yang kuat saat itu, ada semangat yang membara yang dirasakan oleh para peserta rapat.
Seorang diri mungkin dapat melakukan hal baik namun bersama-sama dapat
menghasilkan hal yang terbaik. Agenda selanjutnya adalah kegiatan Mabit di Masjid AlFurqon sekaligus memperkenalkan yayasan Bina Insan Mulia di sekitar Pasirandu dan
agenda besar kami selanjutnya saat itu adalah launching yayasan Bina Insan Mulia di
Aula kantor kecamatan Curug dan saat itu yang meresmikan adalah Kepala UPT dinas
Pendidikan Kecamatan Curug.


Bina insan mulia ini adalah organisasi swadaya milik umat, pengelolaan
bersama yang dilandasi keikhlasan, amanah dan selalu berusaha menerapkan tata
administrasi yang baikserta laporan keuangan yang transparan.
Sosialisasi serta penggalangan dana yang dilakukan oleh para kordinator di
tingkat perusahaan-perusahaan instansi pemerintah dan masyarakat umum
mendapatkan antusiasme yang sangat besar. Beberapa kali kantor BIM pindah dari kios
yang satu ke kios lainnya dan Alhamdulillah berkat kepercayaan para donatur dan kerja
ikhlas para pengurus dan relawan kini kami dapat membeli tempat di Grand Puri Asih.
Iman itu bisa naik dan turun, begitupun dengan semangat kita. outbon2Namun dengan
izin Allah 15 tahun sudah kami mampu mempertahankan eksistensi kami, kami mampu
mempertahankan ukhuwah diantara pengurus dan itu adalah kekuatan yang luar biasa.
15 tahun perjalanan sudah kita tempuh bersama semoga kelak berlanjut hingga kelak
meraih syurga yang kita rindukan bersama. Karena Rasulullah bersabda “Aku dan
penyantun anak yatim akan masuk syurga seperti ini (seraya merapatkan jari tengah
dan jari telunjuknya)”.